ABSTRAKSI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Upaya pembinaan keimanan pada siswa-siswi di MI Darul Huda Kepulungan Gempol Kabupaten Pasuruan tahun pelajaran 2007/2008; (2) Upaya pembinaan keimanan pada siswa-siswi yang diterapkan di MI Darul Huda Kepulungan Gempol Kabupaten Pasuruan Tahun Pelajaran 2007/2008.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan (field research) dengan teknik analisis deskripsi. Data penelitian yang terkumpul kemudin dianalisis dengan menggunakan pendekatan deduktif dan pendekatan induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pembinaan keimanan pada siswa-siswi di MI Darul Huda telah terencana dan terprogram.
Upaya pembinaan keimanan merupakan proses pendewasaan peserta didik agar dapat memahami ajaran agama Islam dan sekaligus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam upaya pembinaan keimanan ada beberapa komponen yang saling mendukung yaitu: (1) Tujuan, (2) Materi, (3) Metode dan pendekatan, (4) Sarana dan prasarana, dan (5) Evaluasi. Masing-masing komponen tidak dapat dipisahkan, karena bila dipisahkan maka ibarat manusia yang berjalan akan pincang.
MI Darul Huda Kepulungan Gempol Kabupaten Pasuruan tahun pelajaran 2007/2008 dengan upaya pembinaan keimanannya dapat mencetak sumber daya manusia yang berkualitas tinggi dalam hal ilmu pengetahuan, keimanan dan ketakwaan. Dengan penguasaan dan pemahaman terhadap ajaran agama Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga dapat beraktulisasi diri di era globalisasi. Melalui pembinaan keimanan dalam aspek aqidah, ibadah dan akhlak, diharapkan setelah peserta didik sudah dewasa keimanannya akan tetap tertanam dalam jiwanya. Dengan pemilihan metode dan pendekatan yang tepat, maka tujuan yang telah ditetapkan di MI Darul Huda Kepulungan Gempol Kabupaten Pasuruan Tahun Pelajaran 2007/2008 dapat tercapai.
Keywods: Pembinaan; Keimanan
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bila ilmu bermula dengan sikap tidak percaya maka agama bermula dari sikap percaya. Ia menerima suatu kebenaran dengan tidak mau dibantah. Kebenaran agama bersifat absolut. Percaya adalah pangkal dan tujuan pengabdian dari agama. Iman bagi seseorang adalah meyakini Islam. Pengertian iman bukan sekedar percaya, kalau kriterianya percaya, maka setan pun dapat dikategorikan makhluk beriman, sebab mereka juga percaya adanya Tuhan dan hari pembalasan.[1] Iman dapat diartikan :
Artinya: “Iman adalah ucapan dengan lisan, mengaqidahkan dengan hati dan mengamalkan dengan anggota badan.”[2]
|
Sehubungan dengan betapa berharganya iman bagi diri setiap mukmin, bahkan diibaratkan dalam surat al–Baqarah ayat 256 yang berbunyi:
Iw on#tø.Î) Îû ÈûïÏe$!$# ( s% tû¨üt6¨? ßô©9$# z`ÏB ÄcÓxöø9$# 4 `yJsù öàÿõ3t ÏNqäó»©Ü9$$Î/ -ÆÏB÷sãur «!$$Î/ Ïs)sù y7|¡ôJtGó$# Íouróãèø9$$Î/ 4s+øOâqø9$# w tP$|ÁÏÿR$# $olm; 3 ª!$#ur ììÏÿx îLìÎ=tæ ÇËÎÏÈ
Artinya: “Tidak ada paksaan untuk memasukkan agama Islam, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 256)[4]
Dengan pengertian di atas, maka perlu adanya upaya pembinaan keimanan yang terus menerus dan berkesinambungan. Karena iman merupakan potensi rohani atau fitrah manusia yang harus diaktualisasikan, dikembangkan dan ditingkatkan secara terus menerus dengan cara melakukan amal shaleh, sehingga dapat dicapai prestasi rohani (iman).[5] Dengan demikian keimanan yang sudah tertanam sejak kecil dalam diri siswa harus dipertahankan dan ditingkatkan. Hal tersebut dapat dicapai dengan melalui upaya pembinaan aqidah, pembinaan untuk melakukan ibadah dan mengarahkan untuk berakhlak sesuai dengan ajaran agama Islam.
Ketiga bentuk pembinaan diatas menjadi salah satu tanggung jawab lembaga pendidikan. Dimana tanggung jawab lembaga pendidikan dalam segala jenisnya menurut pandangan Islam adalah berkaitan dengan usaha mensukseskan misi dalam 3 macam tuntutan hidup seorang muslim yaitu:
- Pembebasan manusia dari ancaman api neraka.
- Pembinaan umat manusia menjadi hamba Allah yang memiliki keselarasan dan keseimbangan hidup bahagia di dunia dan akhirat sebagai realisasi cita-cita seorang yang beriman dan bertakwa.
- Membentuk diri pribadi manusia yang memancarkan sinar keimanan yang kaya dengan ilmu pengetahuan, yang satu sama lain saling mengembangkan hidupnya untuk menghambakan dirinya kepada Kholiknya. Keyakinan dan keimanannya berfungsi sebagai penyuluh terhadap akal budi yang sekaligus mendasari ilmu pengetahuannya, bukan sebaliknya, keimanan dikendalikan oleh akal budinya.[6]
Sedangkan pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali, mustahil suatu kelompok manusia dapat berkembang sejalan dengan cita-cita untuk maju, sejahtera dan bahagia menurut konsep pandangan hidup mereka.[7]
Pembukaan Undang-Undang Dasar republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa salah satu tujuan dibentuknya pemerintah Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Upaya untuk mencerdaskan dan meningkatkan kualitas manusia sebagaimana termaktub dalam UU RI No. 02 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 4 yaitu:
“Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.”
Selain dasar diatas Tap MPR No. II/ MPR/ 1998 disebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.
Pendidikan di Indonesia diselenggarakan baik secara formal maupun non formal. Salah satu sub sistem pendidikan nasional adalah madrasah yang berdiri di bawah naungan Departemen Agama.[8] Disamping ada Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan yang menangani pendidikan nasional yang sekarang menjadi Departemen Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS).
Kita tahu bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan Islam yang sudah ada pada saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya sebagai lembaga pendidikan Islam yang didirikan atas swadaya masyarakat. Model madrasah sangat bervariasi tergantung pada pemilik dan pendirinya. Sudah barang tentu kualitas pendidikannya pun sangat berbeda. Keadaan in mendorong pemerintah dalam hal ini Departemen Agama untuk me-negeri-kan beberapa madrasah swasta yang jumlahnya sangat banyak. Untuk meningkatkan kualitasnya, di era globalisasi dan IPTEK, berbagai upaya telah dan sedang dilaksanakan, seperti penataran kepala madrasah dan guru, pengembangan EMIS (Education Management Information System), perbaikan sarana dan prasarana dan sebagainya.
Karena jumlah madrasah yang banyak, tidak semua madrasah dapat ditingkatkan kualitasnya secara bersamaan, tetapi pembinaan tersebut mesti dilakukan namun secara berjenjang. Salah satunya dengan cara mengembangkan madrasah inti yang dijadikan model bagi madrasah sekitarnya. Selain berfungsi sebagai model, madrasah tersebut diharapkan dapat menjadi Pusat Sumber Belajar Bersama (PSBB) bagi madrasah di sekitarnya yang notabene menjadi anggota KKM (Kelompok Kerja Madrasah) baik negeri maupun swasta.
Sejalan dengan tanggung jawab lembaga pendidikan, tujuan pendidikan Islam juga bertujuan merealisasikan idealitas Islam. Sedang idealitas Islam itu sendiri pada hakekatnya adalah mengandung nilai perilaku manusia yang didasari dan dijiwai oleh iman dan takwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati.[9]
MI Nurul Huda Kepulungan Gempol Kabupaten Pasuruan melakukan upaya pembinaan keimanan[10] pada siswa yang terus dijalani selama bertahun-tahun. Upaya pembinaan keimanan yang diterapkan mencakup pembinaan aqidah, ibadah dan akhlak. Oleh karena itu, hal menarik yang akan penulis telaah ditekankan pada satu titik, yaitu bagaimana upaya pembinaan keimanan pada siswa yang diterapkan di MI Nurul Huda Kepulungan Gempol Kabupaten Pasuruan.
Dengan upaya pembinaan keimanan pada siswa yang diterapkan di MI Nurul Huda Kepulungan Gempol Kabupaten Pasuruan, penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut dalam sebuah penulisan skripsi yang berjudul: “Upaya Pembinaan Keimanan Siswa Di MI Nurul Huda Kepulungan Gempol Kabupaten Pasuruan.”
Untuk menghindari kesalahpahaman tentang judul skripsi ini, maka perlu ditegaskan beberapa istilah yang digunakan, yaitu:
1. Upaya adalah usaha (syarat) untuk menyampaikan suatu maksud.[11]
2. Pembinaan adalah usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik.[12]
3. Keimanan adalah keyakinan, ketetapan hati, keteguhan hati.[13]
4. Siswa adalah peserta didik (terutama pada tingkat Madrasah Ibtidaiyah/ Sekolah Dasar, Madrasah Tsanawiyah/SMP dan pelajar Madrasah Aliyah/ SMA).[14] Yang dimaksud siswa dalam skripsi ini adalah usia tingkat Sekolah Dasar. Usianya berkisar antara 13 – 15 tahun yang dalam bukunya Syamsu Yusuf LN. yang berjudul, “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja” telah menyebutkan bahwa usia tersebut adalah masa pra remaja (remaja awal) dan jenjang pendidikannya menempati masa usia Sekolah Dasar.[15]
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan judul penelitian dan latar belakang masalah seperti dikemukakan diatas, maka pokok permasalahan yang menjadi fokus penelitian adalah: Bagaimana upaya pembinaan keimanan pada siswa yang diterapkan di MI Nurul Huda Kepulungan Gempol Kabupaten Pasuruan?
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui upaya pembinaan keimanan pada siswa yang diterapkan di MI Nurul Huda Kepulungan Gempol Kabupaten Pasuruan.
D. Manfaat Penelitian
Pada khususnya, diharapkan penelitian upaya pembinaan keimanan dalam proses belajar mengajar di lingkungan lembaga pendidikan, dapat menjadi panutan bagi pengelola lembaga pendidikan lain yang belum menerapkannya. Karena dengan upaya pembinaan keimanan itu dapat mengarahkan siswa untuk memiliki mental spiritual yang kuat dan tidak mudah terjerumus ke dalam jurang yang jauh dari norma dan nilai-nilai yang digariskan agama.
Dari deskriptif upaya pembinaan keimanan ini dapat diambil pelajaran positif bagi lembaga pendidikan secara umum, sehingga dapat diaplikasikan dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan mutu pendidikan dan diharapkan akan menghasilkan output yang berilmu dan beriman.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan bertujuan menguraikan pembahasan masalah di atas agar lebih terarah dan mudah dipahami. Serta yang tidak kalah penting adalah uraian-uraian yang disajikan nantinya mampu menjawab permasalahan yang telah disebutkan, sehingga tercapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, adapun sistematika penulisannya adalah sebagai berikut:
Bab I: Pendahuluan, latar belakang masalah, penegasan istilah, pembatasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II: Landasan Teori. Bab ini berisi tentang deskripsi teori mengenai: Pembinaan keimanan Pada Remaja yang meliputi: pembinaan keimanan, pengertian iman, dasar dan tujuan pembinaan keimanan. Pembinaan keimanan pada remaja meliputi: pengertian pembinaan keimanan pada remaja, materi pembinaan keimanan, metode pembinaan keimanan, pendekatan pembinaan keimanan, dan evaluasi.
BAB III: Metodologi Penelitian. Bab ini membahas tentang pendekatan penelitian, metode pengumpulan data dan metode analisis data.
BAB IV: Hasil Penelitian. Bab ini memuat tentang data penelitian yang terdiri dari: kondisi umum MI Nurul Huda Kepulungan Gempol Kabupaten Pasuruan meliputi: tinjauan historis, tinjauan geografis, struktur organisasi, visi, misi dan tujuan, sarana dan prasarana, keadaan pendidik dan upaya pembinaan keimanan yang meliputi: materi, metode, pendekatan, target, dan evaluasi upaya pembinaan keimanan. Faktor pendukung dan penghambat upaya pembinaan keimanan. Selanjutnya adalah analisis data.
BAB V: Penutup yang berisi tentang kesimpulan, saran-saran, dan penutup.
[4] 1Imam Munawwir, Memahami Prinsip-Prinsip Dasar Al Islam, (Surabaya: Bina Ilmu, 1988), hlm. 83.
[6] Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, (Surabaya: PSAPM bekerja sama dengan Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 148.
[7] Fuad Hasan, Dasar-Dasar Kependidikan Komponen MKDK, Jakarta: Rineka Cipta, 1996, Hal. 2.
[8] Dr. H. Maksum, Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya, Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1999, hal. 146.
[10] Yang dimaksud upaya pembinaan keimanan dalam skripsi ini adalah usaha yang dilakukan secara terus menerus melalui bimbingan mengenai hal-hal yang dapat memperkuat iman. Upaya pembinaan keimanan ini meliputi aqidah, ibadah dan akhlak.
[12] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus BesarBahasa Indonesia Edisi ke 2, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), hlm. 134.
[15] Syamsu Yusuf LN., Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000), cet I, hlm. 23-26.